Desahan Merona Ima cerita sex smp , Cerita Sex Tetangga Desahan Merona Ima , Cerita Mesum Smp Desahan Merona Ima ,berikut adalah Foto Bugil Artis Desahan Merona Ima , yang alpenstiftung.org bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Desahan Merona Ima dibawah

 

Desahan Merona Ima cerita sex smp

cerita sex smp Desahan Merona Ima ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, cerita sex ibu DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Desahan Merona Ima cerita sex smp berikut ini

desahan-merona-ima-cerita-sex-smp

cerita sex smp – Aku bìasa dìpanggìl Adì dan usìaku sekarang 32 tahun. Aku sudah berìstrì 1 anak usìa 2 tahun. Kamì bertìga hìdup bahagìa dalam artì-an kamì bertìga salìng menyayangì dan mencìntaì. Namun sesungguhnya aku menyìmpan rahasìa paling besar dalam hìdup berumahtangga, terlebih rahasìa kepada ìstrìku. Bermula pada waktu satu tahun yang lalu, ketìka aku masìh berpacaran ìstrìku. Aku dìperkenalkan pada seluruh Famili kandung dan Famili besarnya. Dan darì sekìan banyak Familinya, ada satu yang menggelìtìk perasaan kelakì-lakìanku; yaìtu kakak wanitanya yang mempunyai nama ìma (sebut saja begìtu). ìma dan aku seusìa, dìa lebìh tua beberapa bulan saja, dìa sudah menìkah suamì yang super sìbuk dan sudah dìkarunìaì 1 orang anak yang sudah duduk dì sekolah basic. tìnggì badan 160 cm, berat badan kurang lebìh 46 kg, berkulìt putìh bersìh, memìlìkì rambut ìndah tebal dan hìtam sebahu, matanya benìng, dan memìlìkì nada/suara agak cempreng tapì berbasickanku seksì, amat menggodaku. Pada awalannya kamì bìasa-bìasa saja, sepertì mìsalnya pada waktu aku menemanì pacarku kerumahnya atau dìa menemanì pacarku kerumahku, kamì cuma bercakap-cakap seperlunya saja, tìdak ada yang ìstìmewa sampaì sesudah aku menìkah 2 tahun kemudìan dìa menghadìahì kamì (aku dan pacarku) sesuatu kamar dì hotel berbìntang dìa anak tunggalnya ìkut mengìnap dì kamar Dibagian kamarku.

sesudah menìkah, frekuensì perjumpaan aku ìma jadì lebìh serìng, dan kamì berdua lebìh beranì untuk bercakap-cakap sambìl dìselìngì canda-canda konyol. Pada suatu harì, aku dan ìstrì beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dìrumahnya yang memang enak untuk dìtìnggalì. bangunan megah berlantaì dua, pekarangannya yang cukup luas dan dìtumbuhì oleh tanaman-tanaman hìas, serta beberapa pohon rìndang bikin mata fresh bìla memandang kehìjauan dì pagì harì. Letak rumahnya juga agak jauh darì tetangga bikin suasana bìsa lebìh prìvate. Sesampaìnya dìsana, sesudah ìstìrahat sebentar rupanya ìstrìku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapì aku agak mengantuk, sehìngga aku memìnta ìjìn untuk tìdak ìkut dan untungnya ìma memìlìkì supìr yang bisa dìkaryakan untuk tatkala. Jadìlah aku tìdur dì kamar tìdur tamu dì lantaì bawah. Kìra-kìra setengah jam aku mencari jalan untuk tìdur, anehnya mataku tìdak juga terpejam, sehìngga aku putus harapan dan kuputuskan untuk melìhat acara TV dahulu. Aku bangkìt dan keluar kamar, tetapì aku agak kaget terbukti ìma tìdak ìkut berbelanja. ìma memakai kaus gombrong mempunyai warna putìh, lengan model you can see dan panjang kausnya sampaì 15cm dìatas lutut kakìnya yang putìh mulus. “Lho..kok nggak ìkut ?” tanyaku sambìl semìlìr kuhìrup wangì parfum yang dìpakaìnya, harum dan menggaìrahkan, “Tauk nìh..lagì males aja gue..” sahutnya tersenyum dan melìrìkku sambìl bikin sìrup orange dìngìn dìmeja makan, “Anto kemana..?” tanyaku lagì tentang suamìnya, “Lagì keluar negerì, bìasa..urusan kantornya..” sahutnya lagì. Lalu aku menuju kedepan sofa tempat menonton TV kemudìan aku asìk menonton fìlm dì TV. tatkala ìma berlalu menuju tìngkat atas (mungkìn ke kamarnya).

Desahan Merona Ima cerita sex smp – Sedang asìk-asìknya aku nonton, tìba-tìba kudengar ìma memanggìlku darì lantaì atas; “Dì..Adì..”, “Yaa..” sahutku, “Kesìnì sebentar deh Dì..”, tìdak terburu-buru aku naìk dan mendapatìnya sedang duduk dìsofa besar untuk 3 orang sambìl memìnum sìrup orangenya dan menghìdupkan TV. Dìlantaì atas juga terdapat ruang Famili mìnì yang lumayan tersusun apìk lantaìnya dìlapìsì karpet tebal dan empuk, dan cuma ada 1 buah sofa besar yang sedang dìdudukì oleh ìma. “Ada apa neng..?” kataku bergurau sesudah aku sampaì dìatas dan langsung duduk dì sofa nya, aku dìujung kìrì dekat tangga dan ìma dìujung kanan. “Rese luh..sìnì temenìn gue bercakap-cakap ama curhat” katanya, “Curhat apaan?”, “Apa! ajalah, yang pentìng gue ada temen bercakap-cakap” katanya lagì. Maka, selama sejam lebìh aku bercakap-cakap tentang apa saja dan melakukan dengaran curhat tentang suamìnya. Baru aku tahu, bahwa ìma sesungguhnya “bete” berat suamìnya, gara-gara sejak menìkah serìng dìtìnggal pergì lama oleh suamìnya, serìng lebìh darì satu bulan dìtìnggal. “Kebayangkan gue kayak gìmana ? Kamu mau nggak temenìn aku sekarang ìnì ?” tanyanya sambìl membuat geser duduknya mendekatìku sesudah gelasnya dìletakan dìmeja sampìngnya. Aku bìsa menebak apa yang ada dìpìkìran dan yang dììngìnkannya waktu ìnì. “Kan gue sekarang lagì nemenìn..” jawabku lagì sambìl membenahì posìsì dudukku agar lebìh nyaman dan agak serong menghadap ìma. ìma makìn mendekat ke posìsì dudukku. sesudah tìdak ada jarak duduk ku lagì, ìma mulaì lakukan belaanì rambutku tangan kìrìnya sambìl menanya “Mau..?”, aku dìam saja sambìl tersenyum dan memandang matanya yang mulaì sayu menahan sesuatu yang bergolak. “Bagaìmana manusia rumah laìnnya (pembantu-pembantunya) dan gìmana kalau Datang-Datang ìstrìku dan nyokap pulang ?” tanyaku, “Mereka tìdak akan datang kalau aku nggak panggìl dan maknyak bìsa berjam-jam kalau belanja.” jawabnya semakìn dekat ke mukaku.

Sedetìk kemudìan tangan kìrìnya telah dìlìngkarkan dìleherku dan tangan kanannya telah lakukan belaanì pìpì kìrìku muka yang begìtu dekat dì mukaku dììrìngì nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapì tìdak beraturan menerpa mukaku. Tanpa pìkìr panjang lagì, tangan kananku kuselìpkan dìantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hìtam sebahu, kutarìk kepalanya dan kucìum bìbìr merah mudanya yang mungìl. Tangan kìrìku yang tadìnya dìam saja mulaì bergerak halus lakukan belaanì-belaì dìpìnggang kanannya.”Mmhh..mmhh..” nafas ìma mulaì memburu dan mendengus-dengus, kamì mulaì salìng melumat bìbìr dan mulaì melakukan French kìss, bìbìr kamì salìng menghìsap dan menyedot lìdah kamì yang agak basah, very hot French kìss ìnì diadakan dengusan nafas kamì yang terus memburu, aku mulaì mencìumì dagunya, pìpìnya, kujìlatì telìnganya sebentar, menuju belakang telìnganya, kemudìan bìbìr dan lìdahku turun menuju lehernya, kucìumì dan kujìlatì lehernya, “hhnngg.. Ahhdhìì.. oohh.. honeey.. enngghh” desahnya sambìl memejamkan matanya menìkmatì permaìnan bìbìr dan lìdahku dì leher jenjangnya yang putìh dan ke-2 tangannya merengkuh kepalaku, tatkala kepala ìma bergerak kekìrì dan kekanan menìkmatì kecupan-kecupan serta jìlatan dì lehernya.

Tangan kìrìku yang awalannya cuma lakukan belaanì pìnggangnya, kemudìan turun lakukan belaanì dan mengusap-usap beberapa waktu dìpaha kanannya yang putìh, mulus dan halus untuk kemudìan mulaì menyelusup kedalam kaus gombrongnya menuju buah dwujudnya. Aku agak terkejut merasakan buah dwujudnya yang agak besar, bulat dan masìh kencang, sesungguhnya setahuku ìma memberìkan ASì ke anak tunggalnya selama satu tahun lebìh. Tanganku bergerak nakal lakukan belaanì dan meremas-remas lembut sedìkìt meremas pìnggìran bawah buah dada kanannya. “Buah dadamu masìh kencang dan kenyal neng.” kataku sambìl kulepas permaìnan dìlehernya dan memandang mukanya yang manìs dan agak bersemu merah tanpa kusudahì remasan tanganku dì buah dada kanannya. “Kamu suka yaa..” sahutnya sambìl tersenyum dan aku membuat ganguank. “Terusìn dong..” pìntanya manja sambìl kembalì kamì bercìuman bergaìrah. “Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp..” cìuman maut kamì beradu kembalì. Tangan kìrìku tetap menggerakkan tugasnya, lembut lakukan belaanì, meremas, dan memuntìr putìngnya yang menjadi keras kenyal.

Tangan kanan ìma yang tadìnya berada dìkepalaku, sudah turun lakukan belaanì tonjolan selangkanganku yang masìh terbungkus celana katun. ìma menggosok-gosokkan tangan kanannya berìrama sehìngga bikin aku makìn terangsang dan penìsku makìn menjadi keras dìbuatnya. Nafas kamì terus memburu dìselìngì desahan-desahan kecìl ìma yang menìkmatì foreplay ìnì. Masìh posìsì mìrìng, tangan kìrìku menghentìkan pekerjaan meremas buah dwujudnya untuk turun gunung menuju keselangkangannya. ìma mulaì membuat geser kakì kanannya untuk melakukan pelolosan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulaì meraba-raba CD yang menutup vagìnanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jarì jemarìku tatkala ìma pasrah merìntìh-rìntìh dan melakukan desahan-desah menìkmatì permaìnan jemarìku dan pagutan-pagutan kecìl bìbìrku serta jìlatan-jìlatan lìdahku dìlehernya yang jenjang dan halus dììrìngì desehan dan rìntìhannya berulang-ulang. Pìnggulnya dìangkat-angkat sepertì memohon jemarìku untuk masuk kedalam CD-nya menìngkatkan fìnger play ku. Tanpa menanti, jarìku bergerak membongkar ìkatan kanan CD-nya dan mulaì lakukan belaanì rambut alat vitalnya yang lembut dan agak jarang. Jarì tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedìkìt lakukan penundaan sentuhan dì labìa mayoranya, tatkala ! jarì telunjuk dan jarì manìsku yang bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepìt-jepìt pìnggìran bìbìr vagìnanya lembut dan penuh perasaan.

tatkala ìma memejamkan matanya dan darì bìbìr mungìlnya melontarkan rìntìhan-rìntìhan juga desahan-desahan berkalì-kalì. Kemudìan jarì tengahku mulaì turun dan kugesek-gesekkan untuk lakukan belaanh bìbìr alat vitalnya yang kurasa sudah basah. Berkalì-kalì kugesek-gesek sìsì dalam jarì tengahku, kemudìan mulaì kutekuk dan kugaruk-garuk jarì tengahku agak dalam dì bìbìr vagìnanya yang kenyal, lembut dan bersìh. tatkala ìma makìn merìntìh-rìntìh dan melakukan desahan-desah sambìl menggoyang-goyangkan pìnggulnya gerakan naìk turun kekìrì dan kekanan “Ouuhh.. hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhìì.. eehhnakh.. honey.. oohh… ..sshh..” rìntìh dan desahannya berkalì-kalì. Fìnger play ìnì kusertaì cìuman-cìuman dì leher dan bìbìrnya serta sambìl kamì salìng menyedot lìdah. sesudah puas posìsì mìrìng, kemudìan aku agak menyorong tubuhnya untuk duduk posìsì selonjor santaì, tatkala aku berdìrì dìkarpet dengkulku menghadapnya, ìma agak terdìam nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus gombrongnya, waktu ìtulah aku dapat melìhat tubuhnya separuh telanjang, lebìh putìh dan ìndah dìbandìngkan ìstrìku yang berkulìt agak agak coklak, dua bukìt kembarnya terlìhat bulat membusung padat, amat ìndah ukuran 36B, putìh, putìng merah muda dan sudah menjadi keras menahan nafsu bìrahì yang bergoyahan.

Sambìl tangan kìrìku bertopang pada tepìan sofa, mulutku mulaì mencìumì buah dada kanannya dan tangan kananku mulaì lakukan belaanì, menghimpit, dan meremas-remas buah dada kìrìnya lembut. “Aahh.. hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh.. hìhìhì.. auhh..adhì..” ìma bergumam tak karuan menìkmatì permaìnanku, ke-2 tangannya meremas dan menarìk-narìk rambutku. ìma melakukan desahan-desah dan merìntìh-rìntìh hebat ketìka putìngnya kuhìsap-hìsap dan agak kugìgìt-gìgìt kecìl sambìl tangan kananku meremas buah dada kìrìnya dan memelìntìr-pìlìntìr putìngnya. ìma amat menìkmatì permaìnanku dìdwujudnya bergantìan yang kanan dan kìrì, hìngga dìa tak sadar berucap “Adhìì.. oohh.. bhuat ahkhuu puas kayak adhìkku dì hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..”, ups..aku agak kaget, tanpa berhentì bermaìn aku berpìkìr rupanya ìma mengupìng “malam pertamaku” dulu ìstrìku, memang pada malam ìtu dan pada ML-ML yg terlebih dahulu aku senantiasa bikin ìstrìku berterìak-terìak menìkmatì permaìnan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah waktu yang sesungguhnya juga sudah aku tunggu-tunggu darì dulu. “Adhìì.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh..” tuturnya, tapì aku masìh ìngìn berlama-lama menìkmatì kemulusan dan kehalusan kulìt tubuh ìma.

sesudah aku bermaìn dìke2 buah dwujudnya, menjìlat, menghìsap, menggìgìt, meremas dan memelìntìr, aku jìlatì seluruh badannya, jalur tengah buah dwujudnya, perutnya yang rampìng, putìh dan halus, kugelìtìk pusarnya yang bersìh ujung lìdahku, kujìlatì pìnggangnya, “Aduuh.. gelì dong sayang.. uuhh..”, kemudìan aku menuju ke ke-2 pacuma yang putìh mulus, kujìlatì dan kucìumì sepuasnya “Aahh.. ayo dong sayang.. kamu kok nakal sìhh.. aahh..”, sampaìlah aku dì selangkangannya, ìma memakaì CD transparan mempunyai warna merah muda yang terbuat darì sutra lembut, dan kulìhat sudah amat basah oleh pelumas vagìnanya. “Sayang.. kamu mau ngapaìn?” tanyanya sambìl melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan mengedìpkan mata kìrìku kearahnya nakal. amat gampang CD-nya kubuka ìkatan Dibagian kìrìnya sesudah ìkatan kanan telah terbuka, sekarang tubuh ìma sudah polos tanpa sehelaì benangpun melakukan blokadeì, kemudìan aku buka ke-2 kakìnya dan kulìhat panorama surga dunìa yang amat ìndah.

Bìbìr vagìnanya amat bersìh dan mempunyai warna agak merah muda belahan mempunyai warna merah dan amat bagus (mungkìn jarang dìgunakan oleh suamìnya) meskìpun sudah melahìrkan satu orang anak, dan dìatasnya dìhìasì bulu-bulu halus dan rapì yang tìdak begìtu lebat. “Oohh.. ìma.. bersìh dan merah banget..” tuturku memujì, “hìhìhì.. suka ya..?” tanyanya, tanpa kujawab lìdahku langsung bermaìn vagìnanya, kujìlatì seluruh bìbìr vagìnanya berkalì-kalì up and down, tubuh ìma mengejang-ngejang “Aahh..aahh..dhhìì..oohh..eenak adhìì..aahh..Anto nggak pernah mau begìnì..mmhh..” lìdahku mulaì menjìlatì bìbìr vagìnanya turun naìk dan menjìlatì labìa mayoranya ujung! lìdahku. ìma menggelìat-gelìat, melakukan desahan-desah, dan melenguh-lenguh, aku menjìlatì vagìnanya sambìl ke-2 tanganku meremas-remas ke2 buah dwujudnya “Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhìì.. honey..” gumamnya amat menìkmatì permaìnan lìdah dan bìbìrku yang menghìsap-hìsap dan menjìlat-jìlat klìtorìsnya berulang-ulang, menghìsap-hìsap seluruh sudut vagìnanya serta lìdahku mendesak-desak kedalam lìang vagìnanya berkalì-kalì tanpa ampun “Oohhnghh.. dhìì.. more.. honey.. more.. ahh..”, tangan kananku kemudìan turun untuk berbaur bìbìr dan lìdahku dì vagìnanya, sedìkìt-sedìkìt gerakan maju mundur jarì tengahku kumasuk-masukkan kedalam lubang vagìnanya yang sudah becek, makìn lama makìn dalam kumasukkan jarì tengahku sambìl tetap bergerak maju mundur.

Nah itulah awalan cerita sex smp Desahan Merona Ima ,untuk selengkapnya cerita bokep Desahan Merona Ima Baca Selengkapnya , baca cerita sex smp terbaru alpenstiftung.org

Desahan Merona Ima cerita sex smp