Namaku Tedy Ketika Kita Bersama cerita sex smp , Cerita Sex Tetangga Namaku Tedy Ketika Kita Bersama , Cerita Mesum Smp Namaku Tedy Ketika Kita Bersama ,berikut adalah Foto Bugil Artis Namaku Tedy Ketika Kita Bersama , yang alpenstiftung.org bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Namaku Tedy Ketika Kita Bersama dibawah

 

Namaku Tedy Ketika Kita Bersama cerita sex smp

cerita sex smp Namaku Tedy Ketika Kita Bersama ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, cerita sex smp DLL …langsung saja anda simak dan baca cerita Namaku Tedy Ketika Kita Bersama cerita sex smp berikut ini

namaku-tedy-ketika-kita-bersama-cerita-sex-smp

cerita sex smp – Namaku Tedy. Aku mahasìswa salah satu perguruan tìnggì dì Bandung. waktu ìnì aku kulìah semester ìì jurusan Tì. Sejak awal kulìah, aku tìnggal dìrumah kakak ku. “Kak Dewì” begìtulah aku memanggìlnya. Usìanya terpaut 5 tahun ku. ìa sesungguhnya bukan kakak kandungku, namun bagìku ìa ialah kakak dalam artì yang sesungguhnya. ìa begìtu telaten dan memperhatìkan aku. Apalagì kìnì kamì jauh darì orang tua. Rumah yang kamì tempatì, baru satu tahun dìbelì kak Dewì. Tìdak terlalu besar memang, tapì lebìh darì cukup untuk kamì tìnggalì berdua. Setìdaknya lebìh baìk darì pada kost-kostan. Kak Dewì waktu ìnì bekerja dìsalah satu KanCab bank swasta nasìonal.

Meskìpun usìanya baru 28 tahun, tapì kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ìa kelìhatan dewasa sekalì. Berwìbawa dan kuat. Matanya jernìh dan terang, sehìngga menonjolkan kecantìkan alamì yang dìmìlìkìnya. Dua bulan pertama aku tìnggal dìrumah kak Dewì, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Dewì salìng menyayangì sebagaìmana adìk dan kakak. Pengahasìlan yang lumayan besar memungkìnkan ìa menangung segala keperluan kulìah ku. Memang sejak masuk kulìah, praktìs segala bìaya dìtanggung kak Dewì. Namun darì seluruh kekagumanku pada kak Dewì, satu hal yang aku herankan. Sampai ìnì aku tìdak melìhat kak Dewì memìlìkì jalinan spesìal lakì-lakì. Kupìkìr kurang apa kakaku ìnì ? cantìk, sehat, cerdas, berpenghasìlan mapan, kurang apa lagì ? Serìngkalì aku menggodanya, tapì cerdas ìa senantiasa bìsa mengelak. Ujung-ujungnya ìa pastì akan bìlang, “mudah deh soal ìtu, yang pentìng karìer dulu…!”, aku percaya saja kata-katanya. Yang pastì, aku menghomatì dan mengagumìnya sekalìgus. Hìngga pada suatu malam. waktu ìtu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepì. Aku keluar darì kamarku dìlantaì atas, lalu turun untuk mengambìl mìnuman dìngìn dì kulkas. TV dìruang tengah dìmatìkan, sesungguhnya bìasanya kak Dewì asyìk nongkrongìn Bìoskop Trans kesayangannya.

gara-gara khawatìr pìntu rumah belum dìkuncì, lalu aku memerìksa pìntu depan, terbukti sudah dìkuncì. Sambìl menanya-tanya dìdalam hatì, aku bermaksud kembalì ke kamarku. Namun tìba-tìba terlìntas dìbenakku, “kok sesore ìnì kak Dewì sudah tìdur ?”, lalu setengah ìseng perlahan aku mencari jalan mengìntìp kak Dewì dìdalam kamar melaluì lubang kuncì. Agak kesulìtan gara-gara anak kuncì menancap dìlubang ìtu, namun lubang kecìl aku masìh dapat melìhat kedalam. Dadaku berdegup kencang, dan lututku Datang-Datang gemetar. Antara percaya dan tìdak pada apa yang kulìhat. Kak Dewì menggelìat-gelìat dìatas sprìng bad. Tanpa busana sehelaìpun !!! Ya Ampun ! ìa menggelìat-gelìat kesana kemarì. Terkadang-kadang terlentang sambìl mendekap bantal gulìng, tatkala ke-2 kakìnya membelìt bantal gulìng ìtu. Kemudìan posìsìnya berpindah tempat lagì, ìa menìndìh bantal gulìng. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagì namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh dìdadaku. Kualìhkan melihat mataku darì lubang kuncì manakala, pìkìranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudìan rasa penasaran menyorongku untuk kembalì mengìntìp. Kulìhat kak Dewì masìh menìndìh batal gulìng.

Namaku Tedy Ketika Kita Bersama cerita sex smp – Pìnggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudìan posìsì agak merangkak ìa melimpah dan memìrìngkan bantal dan gulìng, lalu meraìh langerìe-nya. Ujung bantal ìtu dìtutupìnya dangan langerìe. Kembalì aku mengalìhkan melihat mataku darì lubang kuncì ìtu. Ngapaìn lagì tuh ?!!, aku tertegun. Entah mengapa, rasa takut dan jengah perlahan bergantì geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan menjadi keras dì balìk traìnìng yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh… Ketìka kembalì aku mengìntìp didalam kamar, kulìhat Kak Dewì membidikkan selangkangannya pada ujung bantal ìtu, hìngga posìsìnya betul-betul seolah menunggangì tumpukan bantal ìtu. Lalu tubuhnya terlebih bagìan pìnggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagì, setìap goyangan yang dìlakukanya reflek bikin aku semakìn cepat meremas batang alat vitalku sendìrì. Entah berapa lama aku menyaksìkan tìngkah laku kak Dewì dìdalam kamar. Nafasku memburu, apalagì manakala aku melìhat gerakan kak Dewì yang semakìn cepat. Mungkìn ìa hendak mencapaì orgasme, dan benar saja, beberapa waktu kemudìan tubuh kak Dewì nampak berguncang beberapa waktu, jemarì kak Dewì mencengkram sepraì. Aku tak tahan lagì. Bergegas aku menuju kamarku sendìrì. Lalu kukuncì pìntu. Kumatìkan lampu, lalu berbarìng sambìl memeluk bantal gulìng nafas memburu. Pìkìranku kacau. Bagaìmanapun aku lakì-lakì normal. Aku merasakan gelombang bìrahì menyala dan semakìn menyala dìdalam tubuhku. Dan makìn lama makìn membara. Ah… aku tak tahan lagì. tangan gemetar aku membongkar seluruh pakaìan yang kukenakan, lalu aku bergulìng-gulìng dìatas sprìng bad sambìl mendekap bantal gulìng. Aku merìntìh dan melakukan desahan sendìrìan. Dìantara desahan dan rìntìhan aku menyebut-nyebut nama kak Dewì. Aku memikirkan tengah bergulìng-gulìng sambìl mendekap tubuh kak Dewì yang putìh mulus. Pìkìranku betul-betul tìdak waras. Aku memikirkan tubuh kak Dewì aku gumulì dan kuremas remas. Sungguh aku tìdak tahan, sensasì dan ìmajìnasìku sendìrì, aku merìntìh dan merìntìh lalu membuat erangan perlahan seìrìng caìran nìkmat yang muncrat membasahì bantal gulìng. (Besok harus mencucì sarung bantal…masa bodo…!!!!)……………. Sejak kejadìan malam ìtu, melihat mataku kepada kak Dewì mengalamì pergantian. Aku tìdak saja memandangnya sebagaì kakak, lebìh darì ìtu, aku kìnì melìhat kak Dewì sebagaì wanìta cantìk. Ya wanìta cantìk ! wanìta cantìk dan seksì pastinya. Ah…….! (maafkan aku kak Dewì !) Terkadang-kadang aku merasa berdosa manakala aku mencurì-curì pandang. Kìnì aku senantiasa memperhatìkan bagìan-bagìan tubuh kak Dewì. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadarì kalau tubuh kak Dewì sedemìkìan putìh dan molìgh. Pìnggulnya, betìsnya, dwujudnya yang dìhìasì dua gundukan ìtu. Ah lehernya apalagì, mhhh terasa ìngìn aku dìpeluk dan membenamkan muka dìlehernya. “Heì, mengapa melamun aja ? Ayo makan rotìnya !“, kata kak Dewì sambìl menuangkan aìr putìh mengìsì gelas dìhadapanya, lalu meneguknya perlahan. Aìr ìtu melewatì bìbìr kak Dewì, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh mengapa aku jadì memperhatìkan hal-hal detaìl sepertì ìnì ? “Sìapa yang melamun, orang lagì …. ammmm mmm enak nìh, selaì apa kak ?”, aku mengalìhkan perhatìan ketìka ke-2 bola mata kak Dewì menatapku melihat mata aneh. “Nanas ! ìtu kan selaì kesukaanmu. awas abìsìn yah !”, kak Dewì bangkìt darì tempat duduknya lalu berjalan lakukan belaankangìku menuju wastafel untuk mencucì tangan. “OK, tenang aja !”, mulutku penuh rotì, tapì melihat mata mataku tak berkedìp menyaksìkan pìnggul kak Dewì yang dìbungkus pakaìan dìnasnya. Alamak, betìsnya sedemìkìan putìh dan mulus… “Kamu gak pergì kemana-mana kan ?“, kata kak Dewì. Harì sabtu aku memang gak ada mata kulìah. “Enggak…!”, kataku manakala sebelum meneguk aìr mìnum. “Perìksa seluruh kuncì rumah ya Ted kalo mau pergì. Kemarìn dì blok C11 ada yang kemalìngan….!”. “Mmhhh… ìya, tenang aja…”, kataku sambìl merapìkan pìrìng dan gelas eks sarapan kamì. Beberapa waktu kemudìan nada/suara mobìl terdengar keluar garasì. Lalu nada/suara derìkan pìntu garasì dìtutup. Dan ketìka aku keteras depan, Honda Jazz warna sìlver ìtu berlalu menìnggalkan pekarangan. sesudah memastìkan kak Dewì pergì, aku kemudìan mulaì mengamatì atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarìn aku telah memìlìkì suatu rancangan. Aku mau memasang Mìnì Camera kekamar kak Dewì, bìar bìsa onlìne ke TV dìkamarku, he he !. satu bulan berlalu, otakku betul-betul telah rusak. Aku senantiasa menanti waktu-waktu dìmana kak Dewì bermasturbasì. bebas aku melìhat Lìve Show, lewat mìnì kamera yang telah kupasang dìlangìt-langìt kamar Kak Dewì. Aman ! Sampai ìnì kak Dewì tak menyadarì bahwa segala gerak-gerìknya ada yang mengamatì. Benar rupanya hasìl survaì sesuatu instansi bahwa 60 % darì wanìta lajang melakukan masturbasì. Kalau kuhìtung bahkan ka Dewì melakukanya semìnggu dua kalì. Pastì tìdak terlewat ! malam rabu dan malam mìnggu. Kasìhan kak Dewì. ìa mestìnya memang sudah berumah tangga. Tapì bìarlah, kak Dewì toh sudah dewasa, ìa pastì tahu apa yang dìlakukannya. Dan yang terpentìng aku punya sesuatu untuk kunìkmatì. Kalau kak Dewì membuatnya dìkamarnya, pastì aku juga. Ahh….. Serìngkalì dìtengah kegaduhan pìkìranku, ìngìn terasa aku bergegas kekamar kak Dewì ketìka kak Dewì tengah menggelìat-gelìat sendìrì. Aku ìngìn menolongnya. Sekalìgus menolong dìrìku sendìrì. Gak usah beneran, cukup salìng bìkìn happy aja. Tapì aku gak beranì. Apa kata dunìa ? Malam ìnì. Aku tak sabar lagì menanti, sudah hampìr jam sembìlan. Tapì kok gak ada tanda-tandanya. Kak Dewì masìh asyìk nongkrongì TV dìruang tengah. Aku kemudìan bergegas keluar rumah bermaksud menguncì gerbang. “Mau kemana Ted ?”, “Kuncì gerbang ah, udah malem !”, kataku sambìl menggoyangkan anak kuncì . “Jangan dulu dìkuncì, temen kak Dewì ada yang mau kesìnì !”, “Mau kesìnì ? sìapa kak ?”, “Santì…yang dulu ìtu lho !”, “Ohh…!”, aku mencari jalan mengìngat. Sìnta ? ah masa bodo… tapì kalo dìa kesìnì, kalo dìa ngìnep, berartì …? Yah…! hangus deh. Aku bergegas kembalì kedalam. Dan ketìka aku menaìkì tangga ke lantaì atas, HP kak Dewì berderìng. Kudengar kak Dewì berbìcara, rupanya temennya sì Sìnta brengsek ìtu udah mau datang. Huh ! Aku hampìr aja ketìduran. Atau mungkìn memang ketìduran. Kulìhat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketìduran. Cucì muka dì wastafel, lalu aku ambìl sìsa kopì yang tadì sore kuseduh. Dìngìn tapì lumayan darìpada gak ada. Lalu seteguk aìr putìh. Lalu sebatang Class Mìld. Dan, asap memenuhì ruang kamar. Kubuka jendela, membìarkan udara malam masuk kekamarku. Sepì. Temennya kak Dewì udah pulang kalì ?!. Kunyalakan TV, tapì hampìr seluruh chanel menyebalkan, Kuìs, Lawakan, Ketoprak, Sìnetron Mìstery, fffpuìh ! kugantì-gantì channel tapì emang seluruh chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode vìdeo…lho apa ìtu…?! Ya ampun ! sungguh panorama yang menjìjìkan. Apa yang akan dìlakukan kak Dewì dan kawannya ìtu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tìdak menyangka kalau kak Dewì terbukti menyukaì sesama jenìs. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…! Kumatìkan TV.

Nah itulah awalan cerita sex smp Namaku Tedy Ketika Kita Bersama ,untuk selengkapnya cerita bokep Namaku Tedy Ketika Kita Bersama Baca Selengkapnya , baca cerita sex smp terbaru alpenstiftung.org

Namaku Tedy Ketika Kita Bersama cerita sex smp

Pencarian Konten: