“Pahlawan Tua” di Sepak Bola Juventus dan Pesan Memanusiakan – Juni dan Juli adalah periode penyegaran bagi pesepak bola dunia. Mereka bisa sejenak bersantai dan nikmati liburan bersama dengan keluarga setelah bekerja ‘memeras keringat’ di lapangan.

“Pahlawan Tua” di Sepak Bola Juventus dan Pesan Memanusiakan

Sebelumnya, selama periode Mei sampai Agustus,Agen Sbobet aktivitas mereka sekedar berlatih, tampil di pertandingan, berlatih, dan tampil di pertandingan. Begitu saja hari-hari mereka setiap pekannya. Ada terhitung yang nyambi syuting iklan.

Bila pemain bersantai, tidak demikian bersama dengan klub. Selama libur kompetisi, semua klub sibuk di bursa transfer demi berburu pemain baru untuk memperkuat tim menyambut kompetisi musim 2019/2020. Hingga pekan ke dua Juli ini, sudah banyak pemain yang berpindah klub.

Ada sebagian transfer pemain yang mengambil perhatian. Di antaranya kepindahan Eden Hazard dari Chelsea ke Real Madrid seharga 100 juta euro (sekitar Rp 1,61 triliun). Juga anak muda 19 th. bernama Joao Felix yang dibeli Atletico Madrid dari klub Portugal, Benfica, seharga 126 juta euro (sekitar Rp 2 triliun).

Selain pemain mahal, ada terhitung kabar pemain gratisan. Salah satunya gelandang asal Spanyol, Ander Herrera, yang memilih terlihat dari Manchester United menuju Paris Saint-Germain (PSG).

Dari sekian kabar transfer pemain, tidak benarTaruhan Bola satu yang menurut aku paling menarik adalah kembalinya Gianluigi Buffon ke Juventus. Kiper berusia 41 th. ini dicomot Juve dari PSG bersama dengan standing ‘pemain gratisan’. Dia dikontrak setahun.

Apa menariknya dari kabar transfer seorang pemain tua yang sudah melalui era keemasan kariernya?

Justru di situlah menariknya. Terlepas dari gratisan, kembalinya Buffon ke Juve menyiratkan sebagian pesan menarik. Juve seolah mengirimkan pesan berkenaan pentingnya menghormati ‘mantan pahlawan’ mereka kepada mayoritas klub Eropa yang selama ini cenderung memandang pemain sekadar sebagai ‘aset’ yang dianggap untungkan secara materi bagi klub.

Tidak sedikit pemain yang seolah hanya dicermati dari harga jualnya. Ketika mereka tidak ulang berharga karena menua dimakan usia, mereka akan dibuang. Digantikan oleh yang lebih muda dan punyai prospek panjang. Prinsipnya, bikin apa menjaga pemain tua yang tidak ulang dianggap untungkan namun menyedot anggaran klub untuk menggaji mereka.

Tidak peduli sekiranya sang pemain senior selanjutnya sudah banyak berjasa kepada klub. Seolah klub tidak menjadi berhutang jasa dan menjadi kudu membalasnya bersama dengan memberi mereka kesempatan untuk pensiun di klub yang dicintai dan mereka bela selama bertahun-tahun.

Nasib layaknya itulah yang pernah dialami Taruhan Bolateman akrab Buffon yang sama-sama jadi ikon posisi penjaga gawang di era 2000-an, Iker Casillas. Kiper yang pernah 16 th. membela Real Madrid (1999-2015) dan turut membawa Madrid juara Liga Champions tiga kali (2000, 2002, 2014) ini di lepaskan ke klub Portugal terhadap 2015 lalu ketika usianya 35 tahun.